RST ”Ksatria Airlangga” Tiba di Gresik, Pelayaran Perdana dari Makassar Lancar

image
By usi_pasca On Senin, September 18 th, 2017 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Pelayaran jarak jauh perdana yang ditempuh kapal Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga” berjalan lancar, aman seperti yang diharapkan. Rute itu menempuh pelayaran dari Galesong, Kab. Takalar, Sulawesi Selatan, tempat dibangunnya kapal phinisi ini, mulai Sabtu (9/9) kemarin dan tiba di Pelabuhan Gresik, Jawa Timur, Jumat (15/9) siang.

Begitu sandar di Pelabuhan Gresik, Ketua IKA UNAIR Drs. Ec. Haryanto Basoeni, Ketua Yayasan Ksatria Medica Airlangga (YKMA), pengelola RST, Dr. Christrijogo Sumartono, dr., Sp.An.KAR., didampingi Sekretaris YKMA dr. Suwaspodo Henry Wibowo,Sp.An., MARS, Dr. Rosmala Pratiwi, Sp.B., dr. Agus Haryanto, SpB (pencetus ide awal), dan Helda staf YKMA, segera datang ke Gresik.

”Alhamdulillah, selama dalam perjalanan enam hari kami tidak mengalami kendala berarti. Mesin kapal, walau ini mesin baru, tidak ada masalah. Hanya saja, kami tidak berani memaksimalkan kecepatan antara 9-11 Knot/Jam, tetapi hanya sekitar 70% saja antara 6-7 Knot/jam. Ibaratnya ini inreyen,” kata Mudasir, Kapten Kapal RST “Ksatria Airlangga” ketika dihubungi news.unair.ac.id, Jumat selepas salat Jumat.

Sejak lepas pantai di Galesong hingga di Gresik, kapal RST ini tidak singgah ke dermaga manapun. Artinya terus berlayar. Bahkan membawa bekal bahan bakar solar sebanyak 4.000 liter, sampai Gresik masih tersisa 1.000 liter. Jadi rute Makassar–Gresik menghabiskan 3000 liter bahan bakar.

pelayaran
KAPAL Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga” dengan gagahnya sudah memasuki kawasan Pelabuhan Gresik, Jumat (15/9) siang. (Foto: Istimewa)

Satu-satunya hambatan yang dialami selama perjalanan perdana makassar-Gresik ini, terjadi pada sehari setelah lepas pantai. Kapal terombang-ambing relatif keras. Ini akibat guncangan ombak besar setinggi antara 2-3 meter. Akibatnya, tiang layar di bagian belakang kapal sampai jatuh.

”Beruntung belum dipasangi layar, sehingga kerusakan lebih kecil,” tambah Mudasir. Ia membenarkan ciri khas kapal phinisi adalah layarnya. Ada di bagian depan dan bagian belakang. Tiadanya layar dalam perjalanan perdana ini memang sesuai kesepakatan, sebab pembuatan layar baru akan dilengkapi setelah sandar di Gresik, sekaligus melengkapi peralatan medis rumah sakitnya.

Keenam awak kapal, dikabarkan Mudasir, juga baik-baik saja. Tidak ada yang terkendala sakit, karena perbekalan logistis dan obat-obatan juga lebih dari cukup. (*)

Penulis: Bambang Bes